Peristiwa Merah Putih Manado

   Peristiwa Merah Putih Di Manado

    Pada bulan Oktober 1945 tentara sekutu bersama dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) datang ke Sulawesi Utara dengan alasan ingin membantu menyerahkan kekuasaan Jepang ke Indonesia. Namun ternyata, tujuan sebenarnya adalah hanya untuk merebut kembali wilayah tersebut.    Akhirnya, tentara Belanda dan NICA berhasil mendudukin beberapa wilayah Sulawesi Utara berkat bantuan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) atau tentara Hindia Belanda yang berasal dari kalangan pribumi. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Februari 1946. 

    Perlawanan ini terjadi karena masyarakat Sulawesi Utara tidak menerima bahwa sekutu Belanda ingin merebut kembali wilayah tersebut padahal Indonesia sudah merdeka. Masyarakat Sulawesi Utara enggan tunduk kembali kepada tentara Belanda. Mereka juga ingin diakui bahwa wilayah mereka sudah merdeka.  Maka terjadilah peristiwa ini. Perlawanan rakyat Sulawesi Utara terhadap Belanda dimulai sejak akhir tahun 1945. Beberapa tokoh pejuang yang berperan penting dalam peristiwa ini antara lain adalah Letnan Kolonel Taulu, Sersan Wuisan, Kapten Runtuwene, Kapten Runturambi, dan Mayor Tumundo.

    Mereka membentuk barisan pejuang dan laskar rakyat yang terdiri dari mantan tentara Jepang, mantan tentara PETA (Pembela Tanah Air), mantan tentara Heiho (bantuan tempur), pemuda, pelajar, dan rakyat biasa. Mereka juga mendapat dukungan dari sebagian pasukan KNIL pribumi yang membelot dari Belanda. Pada tanggal 7 Februari 1946, para pejuang menyusun rencana untuk menyerbu markas militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Rencana ini dilakukan secara rahasia dan hanya diketahui oleh beberapa orang saja.

    Pada tanggal 14 Februari 1946, sekitar pukul 04.00 WITA, serangan dimulai. Para pejuang berhasil mengejutkan tentara Belanda yang sedang tertidur pulas. Mereka menembaki pos-pos penjagaan dan gedung-gedung markas Belanda dengan senjata api dan bambu runcing.Pertempuran sengit pun terjadi antara kedua belah pihak. 

    Para pejuang berjuang dengan gigih meskipun mengalami keterbatasan persenjataan dan amunisi. Mereka juga tidak gentar menghadapi serangan udara dari pesawat-pesawat Belanda yang membombardir posisi mereka. Puncak peristiwa ini terjadi ketika para pejuang berhasil merebut bendera Belanda yang berkibar di atas gedung markas Belanda. Mereka merobek bagian biru dari bendera tersebut sehingga hanya tersisa warna merah putih seperti bendera Indonesia. Bendera merah putih itu kemudian dikibarkan di atas gedung tersebut sebagai simbol kemenangan dan keberanian rakyat Sulawesi Utara.

    Peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang patut dikenang dan dihormati oleh bangsa Indonesia. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa rakyat Indonesia bersatu dan berjuang untuk kemerdekaan tanpa memandang suku, agama, atau daerah. Peristiwa ini juga menimbulkan beberapa dampak positif dan negatif bagi rakyat Sulawesi Utara. Dampak positifnya adalah menunjukkan semangat juang dan keberanian rakyat Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Dampak negatifnya adalah menimbulkan korban jiwa yang banyak dan kerusakan fisik yang parah di kota Manado. Sebanyak 500 orang yang menjadi korban dari peristiwa ini, 300 berasal dari masyarakat Sulawesi Utara dan 200 dari tentara Belanda. Untuk mengenang seluruh jasa para pahlawan dalam insiden merah putih di Manado. Didirikan sebuah monumen BW Lapian dan Ch Ch Taulu di Jalan Raya Kawangkoan-Tampaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kita harus berani untuk memperjuangkan hak yang kita miliki.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Princess Diaries